Penanganan penderita rabies tergantung pada status penyakit tersebut, apakah virus masih pada tahap inkubasi atau sudah menunjukkan gejala. Jika pasien belum menunjukan gejala, maka rangkaian pengobatan yang disebut profilaksis pasca pajanan dilakukan. Penanganan ini dapat mencegah virus berkembang sehingga menyebabkan gejala.
Jika rabies telah mencapai tahap gejala, maka risiko kematian telah mengintai. Pada fase ini, biasanya dokter akan lebih fokus untuk membuat pasien tetap tenang dan senyaman mungkin. Untuk lebih jelasnya, kedua jenis penanganan tersebut akan diuraikan di bawah ini.
'Pengobatan dalam masa inkubasi virus rabies dengan profilaksis pasca perjalanan
Penanganan profilaksis pasca pajanan terdiri dari tiga unsur, yaitu pembersihan luka, pemberian immunoglobulin rabies sebagai persiapan khusus antibodi, dan yang terakhir adalah pemberian serangkaian vaksinasi rabies.
Gigitan hewan pembawa rabies harus segera dibersihkan. Gunakan air bersih yang mengalir untuk membersihkan luka. Setelah itu pakailah antiseptik atau alkohol untuk mensterilkan luka tersebut. Anda juga bisa menggunakan etanol, atau larutan yodium jika ada. Biarkan luka tetap terbuka. Sangat tidak diperbolehkan untuk menjahit luka tersebut karena dikhawatirkan ujung saraf akan terekspos virus rabies. Pergilah ke klinik kesehatan atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Setelah dokter mendengar penjelasan Anda dan memperkirakan bahwa Anda kemungkinan besar terjangkit virus rabies, maka Anda akan disuntik terlebih dahulu dengan immunoglobulin rabies. Immunoglobulin berfungsi sebagai antibodi yang dapat menetralkan virus rabies dan mencegah virus tersebut menyebar ke sistem saraf. Mengenai efek sampingnya, immunoglobulin hanya menimbulkan rasa sakit sementara di beberapa titik suntikan.
Selanjutnya masuk tahap vaksinasi. Dokter akan tetap memberikan Anda vaksinasi rabies meski Anda sudah pernah mendapatkannya. Dengan kata lain vaksinasi rabies selalu diberikan dalam setiap kasus berisiko tinggi.
Anda akan menerima lima suntikan vaksin rabies jika belum pernah divaksinasi sebelumnya. Suntikan pertama diberikan pada awal pengobatan dan untuk empat suntikan sisanya akan diberikan setelah tiga, tujuh, empat belas, dan tiga puluh hari setelah pemberian vaksin pertama.
Bagi pasien yang pernah divaksinasi rabies, dokter biasanya hanya akan memberikan dua suntikan vaksin. Suntikan pertama diberikan di awal pengobatan, dan suntikan kedua diberikan tiga hingga tujuh hari kemudian.
Bagaimana dengan efek samping yang ditimbulkan oleh vaksinasi rabies tersebut? Umumnya efek samping yang timbul hanya berupa rasa sakit, bengkak, serta warna kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik. Namun efek samping tersebut biasanya tidak berlangsung lama, yaitu hanya terasa satu hingga dua hari setelah disuntik.
Mengenal jenis vaksin rabies
Ada tiga jenis vaksinasi rabies, yakni vaksin jaringan saraf, vaksin sel embrio ayam yang dimurnikan (PCEC), dan vaksin sel diploid manusia (HDCV). Yang membedakan ketiga vaksin tersebut adalah sampel sebagai bahan pembuatnya.
Vaksin jaringan saraf dibuat dengan menggunakan sampel saraf otak hewan, vaksin PCEC dibuat dengan menggunakan sampel embrio ayam, dan vaksin HDCV dibuat dengan menggunakan sampel sel manusia.
Ada dua vaksin rabies yang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO, yakni HDCV dan PCEC. Untuk vaksin jaringan saraf sendiri tidak termasuk yang direkomendasikan karena setelah diteliti, vaksin tersebut dapat menyebabkan cacat permanen, seperti kelumpuhan otot. Kendati begitu, peluang untuk terjadinya komplikasi serius sangatlah kecil. Namun Anda disarankan untuk menolak dan meminta vaksin lain (HDCV atau PCEC) jika dokter menawari Anda vaksin jaringan saraf.
Penanganan yang sifatnya hanya menenangkan penderita
Jika rabies terlambat ditangani dan sudah masuk tahap munculnya gejala, itu artinya rabies sudah tidak dapat diobati lagi. Dokter biasanya hanya akan memberikan penanganan yang sifatnya menenangkan bagi pasien yang sudah dalam kondisi tersebut. Misalnya dokter akan memberikan obat penenang bahkan obat bius agar pasien tidak meronta-ronta dan agar pasien tidak menderita akibat sakit yang dirasakannya.
Meski hingga saat ini belum ada laporan mengenai seseorang yang tertular rabies akibat berada dekat dengan pasien rabies atau terjadi kontak dengan pasien rabies, namun secara teori ada kemungkinan hal tersebut bisa terjadi. Karena itu bagi yang berada dekat dengan pasien rabies, terutama keluarga pasien atau pun dokter yang menangani, sebaiknya melakukan prosedur profilaksis pasca pajanan sebagai pencegahan.
sumber :alodokter.com

0 Response to "Tips Pengobata Penyakit Rabies"
Posting Komentar